Arsip untuk Kategori 'Indonesia Maju'

Bahkan Socrates Menolak Demokrasi..

Pada masanya, Socrates dikabarkan menolak demokrasi. Saat itu Athena telah mengamalkan cara pemerintahan ini.

Socrates yakin hanya orang-orang bijak saja (filosof) yang semestinya menyelenggrakan pemerintahan. Atas dasar ini dia sebenarnya tidak hanya menolak demokrasi, melainkan sistem pemerintahan lain yang tidak dijalankan oleh filosof.

Demokrasi Athena tentu saja masih dalam tahap paling awal. Trias politica (eksekutif, yudikatif, legislatif) belum lagi ditemukan. Hampir semua urusan mungkin saja masih diputuskan secara langsung, tanpa sistem perwakilan (parlemen) seperti yang berkembang sekarang.
Lanjutkan membaca ‘Bahkan Socrates Menolak Demokrasi..’

Revisionist, Gus Dur, Penyanjung dan Pencemooh

Dalam panggung Marxisme dikenal ‘revisionist’. Istilah ini menjadi milik mereka yang ingin memodifikasi ajaran Marx.

Orang-orang ini berpendapat Marxisme tak mesti tetap. Sedikit perubahan dan kompromi ditambah sepuhan ide dari sekitar akan membuat Marxisme tidak akan keluar konteks jaman dan ruang.

Selintas ini tampak sebagai upaya baik hati. Sayangnya, sebagian besar justru tak sependapat. Revisionist bukanlah istilah mulia yang patut dielukan. Alih-alih, revisionist adalah stempel hukuman mati. Seorang bercap revisionist tidak akan bisa lari jauh atau pernah merasa aman karena tiap  saat bisa saja para agen ortodoksi melepaskan peluru yang akan menembus jantung.
Lanjutkan membaca ‘Revisionist, Gus Dur, Penyanjung dan Pencemooh’

Motif Noordin M. Top Menebar Teror: Agama, Kesenjangan, Kemiskinan..?

Noordin M. Top akhirnya tewas di Solo. Untuk saat ini, tumpaslah pentolan gerombolan teroris, meski munculnya tunas baru akan selalu menjadi ancaman laten.

Apa yang menjadi motif penggerak teroris? Bersedia menebar maut di negeri yang sebagian besar penghuni semestinya menjadi saudara seiman mereka?

Pertama-tama perlu diungkap dulu apa sebenarnya terorisme. Penelisikan kemudian dilanjutkan dengan mencari sebab yang menjadi pemicu terorisme secara umum.
Lanjutkan membaca ‘Motif Noordin M. Top Menebar Teror: Agama, Kesenjangan, Kemiskinan..?’

Genjer-genjer, Hikayat Lagu PKI Itu..

Inilah lirik lengkap lagu legendaris itu:

Genjer-genjer nong kedok-an pating keleler
(Genjer-genjer di pematang, berserakan)
Emak-e tole,teko-teko mBubuti genjer
(Ibunya anak-anak, datang-datang mencabuti genjer)

Oleh sak tenong mungkor sedot seng tole-tole
(Dapat sebakul lalu ngeloyor pergi dapat yang kecil-kecil)
Genjer-genjer saiki wis digowo muleh
(Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang)

Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar
(Genjer-genjer pagi-pagi dijual di pasar)
Dijejer-jejer,diuntingi, podo didasar
(Dibariskan, diikat dan semua digelar)

Emak-e Jebreng podo tuku nggowo welasan
(Ibunya Jebreng pada beli membawa belasan ikat)
Genjer-genjer saiki wis arep diolah
(Genjer-genjer sekarang siap diolah)

Genjer-genjer dipopulerkan Lilis Suryani dan Bing Slamet di awal tahun 60an. Untuk versi Bing Slamet bisa didengarkan disini.

Hikayat awal lagu ini mesti ditarik jauh pada masa penjajahan Jepang. Dikala itu kehidupan rakyat amat sengsara. Untuk makan sehari-hari banyak yang mesti mengganti beras dengan gaplek dan bahan lainnya.
Lanjutkan membaca ‘Genjer-genjer, Hikayat Lagu PKI Itu..’

In Memoriam Rendra, Terbanglah Menuju Sang Raja

Hidup tidaklah untuk mengaduh dan mengeluh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
Bekerja membalik tanah
Memasuki rahasia langit dan samudera
Serta mencipta dan mengukir dunia
Kita menyandang tugas
Karena tugas adalah tugas
Bukan hanya demi sorga dan neraka
Tetapi demi kehormatan seorang manusia
(W.S. Rendra, 1972)

Saya tidak kenal Rendra. Saya pun bukan penikmat intens karya-karyanya.  Tapi saya jelas terkesan dengan petikan sajaknya ini.

Jika sajak ini ditanyakan kepada tokoh agama, jelas mereka tidak akan setuju. Karena tugas manusia di dunia sudah jelas, menyembah Tuhan dan berbuat baik untuk kelak mendapatkan surga.

Entahlah, buat saya, pendekatan yang melulu seperti ini justru malah menegaskan sifat “materialistis” manusia. Bayangkan, dari lahir hingga matinya, manusia senantiasa mengharapkan kenikmatan dan kesenangan. Sangat sedikit yang secara sadar menolak manis madu dunia.
Lanjutkan membaca ‘In Memoriam Rendra, Terbanglah Menuju Sang Raja’

5 Biang Terorisme

Terorisme tentu bukan sesuatu yang muncul dari ruang hampa. Dia memerlukan kultur tertentu untuk tumbuh.

Penyebab terorisme perlu dikenali karena ini berkait dengan upaya pencegahannya. Berikut adalah 5 sebab terorisme -saya sarikan dengan perubahan dari www.meteck.org/causesTerrorism.html- :
Lanjutkan membaca ‘5 Biang Terorisme’

Halaman Berikutnya »


Kunjungan

  • 59,222 pelancong

Masukkan alamat E-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui E-mail.