GObama
Dimuat di Harian Waspada (9 November 2010)
Setelah tertunda beberapa kali, pada tanggal 9 dan 10 November Obama dijadwalkan berkunjung ke Indonesia. Pro, kontra, demo, kesibukan terkait penyambutan dan pengawalan turut menjadi warna di saat-saat menjelang kedatangannya.
Tulisan ini tidak akan berbicara soal politik atau analisis mengenai hubungan Indonesia-Amerika. Tulisan ini akan berusaha memotret Obama sebagai manusia, tidak terbatas sebagai politisi ataupun presiden Amerika.
Saat kampanye presiden dua tahun lalu, Obama menawarkan perubahan sebagai tema kampanyenya. Tidak hanya warga Amerika, warga dunia juga menaruh harapan kepadanya. Kepopulerannya melebihi batas geografis Amerika. Obama menjadi simbol bersulih rupanya wajah Amerika dengan mimik yang lebih simpatik.
Latar belakang pelangi
Obama itu unik. Tak banyak orang yang memiliki begitu rupa paduan latar belakang. Punya bapak orang Kenya, ibu asli Amerika, lahir di Hawai, bapak tiri orang Indonesia, SD pernah di Jakarta, dan separuh kulit hitam. Ringkasnya, latar belakangnya mirip pelangi.
Orang-orang yang punya latar belakang aneka warna macam ini semestinya akan lebih toleran terhadap perbedaan, mereka jadi lebih empati. Apalagi Obama yang separuh kulit hitam pasti juga merasakan bagaimana sulitnya posisi warga kulit hitam dibanding kulit putih. Ini diharapkan akan turut berpengaruh terhadap kebijakan Amerika Serikat. Jadi tidak seperti pendahulunya, George Bush yang hitam-putih mirip pandangan orang yang memakai kacamata kuda, kalau tidak mendukung kami, maka kamu jadi musuh kami.
Obama juga bisa jadi contoh bagaimana orang yang bukan siapa-siapa mampu mencapai puncak sukses. Dia bukan berasal dari keluarga aristokrat politik Amerika. Beda seperti Kennedy atau Roosevelt, yang bapak, kakek, atau sepupunya merupakan tokoh politik penting. Itu yang kemudian diklaim Obama sebagai bukti kalau American Dreams itu masih ada.
Dia adalah sosok fenomenal. Dari tokoh yang baru dikenal secara nasional tahun 2004 sehabis ditunjuk untuk memberikan pidato utama pada Konvensi Nasional Partai Demokrat, ternyata empat tahun kemudian sudah berhasil menjadi presiden. Dan yang bikin geli, pada Konvensi Nasional Demokrat tahun 2000, dia sempat diusir, tidak diperbolehkan masuk ruangan gara-gara kartu pengenalnya bermasalah. Begitulah, gabungan dari latar belakang unik, kepiawaian berpidato, pendidikan yang tinggi, pengalaman di akar rumput, tema kampanye yang segar, muda, dan kerja keras, akhirnya kursi kepresidenan menjadi miliknya.
Satu isi pidatonya yang saya ingat kira-kira begini: Saya bukanlah laki-laki sempurna. Saya pun tidak akan menjadi presiden yang sempurna. Tapi satu yang bisa saya janjikan kepada Anda. Saya akan selalu jujur kepada Anda. Saya akan selalu menyampaikan kesulitan-kesulitan yang kita hadapi. Saya akan selalu terbuka kepada Anda. Dan yang paling penting, saya akan mendengarkan Anda, mengajak Anda turut berperan serta.
Ternyata cuma itulah yang dibutuhkan pemilih Amerika: kejujuran. Setelah sebelum ini mereka dibohongi Bush. Mulai dari isu senjata pemusnah masal Irak yang tidak pernah ada ditambah kebohongan lainnya.
Setalah 2 tahun
Namun jalan tidak selalu mudah. Pada pemilu awal November ini, Partai Demokrat kehilangan dominasinya di House of Representatative (DPR Amerika), dan harus melepaskan beberapa kursi di senat meskipun Demokrat masih menjadi kekuatan mayoritas. Hasil pemilu ini tentu saja menjadi pukulan bagi Obama, mengingat dia akan kehilangan keleluasaan menuntaskan program-program di sisa waktu pemerintahannya. Kekalahan ini terutama dipicu kekecewaan rakyat Amerika atas perbaikan kinerja ekonomi yang belum memuaskan. Obama dinilai belum mampu menurunkan angka pengangguran yang masih tetap tinggi.
Konsekuanesi kekalahan ini tidak hanya memiliki arti ekonomi saja. Kekalahan ini juga membawa simbolisasi bangkitnya kelompok ‘tea party’ yang didukung oleh golongan konservatif. Mengomentari kekalahan Demokrat, beberapa koran Eropa menurunkan headline yang berisi kekhawatiran akan bangkitnya golongan yang ingin mengembalikan kebijakan bergaya hitam-putih seperti sebelumnya.
Dari sini kita bisa melihat bahwa penduduk dunia sebenarnya masih berharap pada Obama. Obama masih menjadi simbol perubahan. Dunia masih ingin Amerika menampilkan wajah lain yang lebih ramah, mengurangi bahasa kekuatan dan kekerasan yang akhirnya hanya akan menghasilkan siklus kekerasan baru.
Sebagai pribadi, latar belakang pelanginya menjadi simbol bersatunya ragam perbedaan. Bahwa perbedaan bukannya melulu saling menegasikan, melainkan justru mampu menjadi kombinasi cantik yang memperkaya. Pencapaiannya masih menginspirasi banyak orang. Membuat orang masih percaya akan nilai kerja keras. Bahwa setiap orang harus punya mimpi dan berusaha sekuat daya buat mewujudkannya.
Akhirnya, kita tidak akan bisa menebak pasti arah masa depan. Tapi apa yang ditampilkan Obama selama ini rupanya mampu membawa angin segar. Terlepas dari kekalahan pemilu yang baru lalu, banyak warga dunia yang masih percaya. Suka atau tidak, Amerika masih menjadi satu kekuatan terbesar. Apa yang mereka lakukan konon turut memberi pengaruh pada bagian dunia lain. Dari pengaruh baik, buruk, besar, ataupun kecil yang hampir tidak terasa. Pengaruh yang mampu membuat kepala kita setidaknya menengok sedikit kepadanya.[]
Syafril Hernendi, mahasiswa Ph.D. di University of Arizona, AS

Mari Mampir ke Tucson
Four Corners, Dimana 4 Negara Bagian Bertemu
GObama, Soal Presiden Kulit Hitam Itu
Inspeksi ke Idaho
Persiapan Menjelang Berangkat: Tiket Pesawat, Barang Bawaan, Apalagi?
Huck Salt: Tambang Garam di Nevada
SME Annual Meeting in Denver
Sistem Pendidikan di Amerika
Wong Jogja di Rantau
Tahun Baru Rasa Salt Lake
Kategori: Artikel Media Massa





Komentar (0)
Trackback URL | Comments RSS Feed