Pilih! Hidup Fana atau Sama Sekali Tak Ada?
Jika ditanya dan ditawari dua pilihan, mana yang akan kita pilih?
Dilahirkan ke bumi untuk kemudian mengetahui bahwa ternyata hidup tak selalu mudah, untuk mengetahui bahwa kita menemukan orang-orang yang kita cintai untuk kemudian kelak direnggutkan darinya, dan untuk mengetahui kenyataan bahwa hidup tak abadi?
Atau yang kedua, memilih untuk tak pernah dilahirkan atau menjadi eksis hingga tak perlu merasakan kepedihan-kepedihan itu?
Tentu saja pertanyaan ini fiksi belaka. Faktanya kita tidak pernah ditanya. Kenyataannya kita telah mewujud sebagai individu saat ini.
Namun, pertanyaan ini bukan pula tidak mempunyai arti sama sekali. Setidaknya ini akan mengingatkan bahwa sebagai individu, eksistensi kita saat ini telah melalui proses yang begitu ajaib.
Semua alur ternyata begitu pas tanpa ada satu variabel yang meleset. Bayangkan jika sperma yang membuahi ternyata bukan sel yang itu melainkan satu yang lain, mungkin individu yang akan terlahir merupakan individu yang lain pula.
Dengan mengetahui ini, semestinya semakin tebal rasa penghargaan kita terhadap hidup. Memang bumi tak lagi kekurangan penghuni dengan 6 milyar manusia, namun jumlah ini sangat mungkin merupakan porsi kecil melalui proses yang begitu rumit yang kemudian survive dan eksis dari tak terhingga kemungkinan .
Apalagi jika kemudian kita sampai pada kesadaran mendalam bahwa hidup ini suatu saat akan putus. Paling tidak ini akan mematrikan semangat untuk melakukan segala sesuatunya sebaiknya, karena apa yang telah lewat hanya bisa ditengok melainkan tak bisa dipanggil kembali.
Apapun kondisinya sekarang, fakta tak terpungkiri menunjukkan bahwa kita telah eksis. Ternyata kita tak pernah diberikan kesempatan memilih. Ini tak menyisakan banyak opsi selain berusaha sekuat mungkin untuk menghargai hidup ini.
Tidak hanya hidup milik sendiri, melainkan juga individu-individu lain yang diberi kesempatan yang sama. Selain mengejar kepuasan sendiri, sesungguhnya kita memiliki kewajiban mengurangi penderitaan orang lain sekecil apapun itu, yang jikapun tak sanggup, setidaknya dengan tidak menjadi penambah beban.
Hidup semestinya dijalani dengan menghilangkan sekat dan batas. Standar yang kita gunakan semestinya adalah standar kemanusian, bukan agama, suku, kebangsaan, atau lainnya. Baik atau buruk seharusnya ditimbang akan manfaat atau mudharat sesuatu terhadap kemanusiaan secara universal.
Sudah seharusnya, menjadi tugas semua untuk menjadikan bumi ini tempat yang semakin baik dan ramah. Bagian terbesar masalah adalah buatan manusia, dan dapat diselesaikan oleh manusia.
Kenyataan bahwa kita menjadi yang terpilih untuk eksis dan bahwa tak ada eksistensi abadi seharusnya jadi penggerak untuk memperlakukan hidup sebagai ‘our most precious’.[]

Pascal’s Wager: Bertaruh akan Eksistensi Tuhan
Revisionist, Gus Dur, Penyanjung dan Pencemooh
Pendekatan Isu Pembangunan Rumah Ibadah
Dua Cara Memaknai Takdir
Bahkan Socrates Menolak Demokrasi..
Hero, Kokok Ayam, dan Perlunya Tujuan
Dalam Bingkai Eksistensialisme: Tindakan Saya Mendefinisikan Siapa Saya
Gunakan Akal Kritis, Jangan Dungu Seperti Useful Idiots
Sukses? Tak Perlu Bakat Besar
Jalan Baik, Menuju Indonesia Lebih Baik
Kategori: Langlang Fikir, Nutrisi Jiwa





mmm… saya cenderung untuk bilang kita tak punya pilihan, tapi benar bahwa hal-hal yang syafril uraikan itu musti disadari. Yang saya pahami adalah bahwa kita diciptakan dengan “tugas-tugas” namun dengan dibekali “panduan”nya, yang sampai akhir hayat pun tidak akan pernah tuntas mempelajarinya, saking luasnya ilmu-Nya. Tapi Dia Maha Adil dan menilai kita dari apa yang kita upayakan. Jadi, semangat terus untuk belajar dan berusaha melakukan segala sesuatu dengan “benar”. Dan benar, hidup ini dihadapkan pada pilihan-pilihan. Melakukan kesalahan “dalam memilih” itu wajar, memang manusia diciptakan tidak sempurna, tetapi harus selalu berusaha memilih yang terbaik, yang “tidak membuat kerusakan di muka bumi”. Konteksnya frase yang terakhir bukan mlulu tentang lingkungan fisik tapi juga sosial-kemanusiaan. Sejauh ini itulah yang saya pahami, masih selalu belajar
________________________
Syaf: Halo wit,
He2x, sama, masih selalu perlu belajar
di ciptakan terlahir di dunia itu mungkin merupakan suatu takdir yg tidak bisa di bantah, ttpi manusia mempunyai pilihan hidup di dunia,,syukur atau kufur,benar atau bathil,..lurus atau kah berbelok,,,
ngmng opo toh y mas…hehehe,,,