Motif Noordin M. Top Menebar Teror: Agama, Kesenjangan, Kemiskinan..?

Noordin M. Top akhirnya tewas di Solo. Untuk saat ini, tumpaslah pentolan gerombolan teroris, meski munculnya tunas baru akan selalu menjadi ancaman laten.

Apa yang menjadi motif penggerak teroris? Bersedia menebar maut di negeri yang sebagian besar penghuni semestinya menjadi saudara seiman mereka?

Pertama-tama perlu diungkap dulu apa sebenarnya terorisme. Penelisikan kemudian dilanjutkan dengan mencari sebab yang menjadi pemicu terorisme secara umum.

Menurut www.dictionary.reference.com, teror diartikan sebagai “cause of intense fear or anxiety” atau sesuatu yang mampu menyebabkan perasaan takut dan kecemasan yang sangat. Pelaku teror menghendaki tingkat ketakutan maksimal sebagai ukuran keberhasilan misinya.

Kenapa mereka memutuskan aksi teror? Ada setidaknya 5 sebab populer: 1. Kesukuan, nasionalisme/separatisme; 2. Kemiskinan dan kesenjangan; 3. Non demokrasi; 4. Pelanggaran harkat kemanusiaan; 5. Radikalisme agama.

Lantas sebab mana yang menjadi pemicu tindak teror yang terjadi di Indonesia? Untuk kasus yang didalangi Noordin M. Top ini, saya akan mengarahkan penyebab utamanya pada poin kelima: Radikalisme agama.

Penyebab radikalisme bermuara pada pemahaman yang serampangan terhadap teks agama. Dalam kasus teror, ayat-ayat jihad diterapkan begitu saja untuk mensahkan aksi-aksi mereka. Pelaku teror senantiasa membayangkan tengah berperang dengan musuh-musuh Allah yang mengancam Islam. Ini bisa diketahui dari artikulasi-artikulasi yang mereka tunjukkan yang merupakan bahasa-bahasa agama.

Bagaimana dengan sebab lain seperti kemiskinan dan kesenjangan? Dalam takaran tertentu, mungkin saja faktor ini turut mendorong pelaku, hanya saja ini bukan pendorong utama.

Jika ditelusuri, para pelaku bukanlah orang yang berasal dari kalangan miskin atau bertempat tinggal di pemukiman-pemukiman kumuh. Justru sebaliknya, pelaku memiliki latar belakang sebagai orang terpelajar dan dari golongan relatif menengah.

Jargon yang dipakai juga tidak menunjukkan adanya pembelaan terhadap orang-orang miskin dan tertindas. Pun jika ada klaim ketertindasan, itu lebih merupakan representasi ketertindasan umat Islam oleh kekuatan lain seperti Amerika atau Yahudi/Israel. Namun yang menjadi motif utama tetap pada adanya ancaman dari musuh Islam yang jelas merupakan motif agama.

Dari sini dapat dipahami bahwa pelaku teror tidak peduli dengan isu-isu aktual yang sedang berlaku di Indonesia. Jadi jika ada yang tetap menganggap mereka sebagai martir atau pejuang ketidakadilan, ini jadi pembelaan yang absurd. Dimana letak dampak langsung pengikisan ketidakadilan dengan semua tindakan teror itu?

Akhirnya, terorisme di Indonesia adalah tindak kejahatan. Menebar maut secara acak tidak bisa dijustifikasi dengan dalih perjuangan. Dan untuk itu, tidak perlu ada pembelaan.[]

Tulisan terkait:

3 Tanggapan ke “Motif Noordin M. Top Menebar Teror: Agama, Kesenjangan, Kemiskinan..?”


  1. 1 artikelislami 17 September 2009 pukul 15:23

    Kemapanan ekonomi seseorang tidak menutup motif teror. Maksudnya, bisa saja si teroris ini merasa kurang dan rela menjual aqidahnya demi kehidupan duniawi. Anda tahu ‘kan bagaimana orang2 macam Guntur Ramli, Ulil Abshar Abdalla, dan juga Aminah Wadud? Mereka rela menjual aqidah mereka demi dollar yg ditawarkan Amerika. Kita tahu bahwa Nordin, Azhari dan banyak pentolan teroris yg berkedok Islam ini adalah lulusan barat. Tidak dipungkiri bahwa Osama sendiri adalah anggota CIA. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahhab, nenek moyangnya Salafi, dia pun merupakan perpanjangan tangan dari agen Inggris. Maka tak heran jika teroris itu mendapatkan “rumah” di kalangan salafi. Usaha barat untuk meradikalisasi ummat Islam memang telah dimulai sejak lama. Dan metodenya terus berkembang. Di lain sisi mereka juga meliberalkan ummat Islam. Semua usaha mereka itu tak lepas dari kerangka merusak ummat Islam dan menjauhkan ummat Islam dari agama Allah.
    Waspadalah terhadap Global Freemasonry!
    ___________________________

    Syaf: Sampeyan nanya ulil ke saya? Ehm, saya ndak kenal ulil, tapi pernah baca beberapa tulisannya. Menurut saya mencerahkan, mampu memberi sudut yang berlainan.

    Yeah, salahkan saja yahudi/amerika untuk semua masalah bukan? Sungguh tak kreatif. Jadi kalo lulusan barat selalu buruk, sedang lulusan arab selalu baik, begitu?

    Noordin lulusan barat? Baru tau saya, coba diperiksa lagi datanya. Noordin adalah lulusan universiti teknologi malaysia. Habis itu jadi kepala sekolah di pesantren Lukamanul Hakiem, Johor. Sama sekali ga bau lulusan barat.

    Jadi sebaiknya jangan menuduh/menjudge berdasarkan prasangka. Sekedar ilusi seperti yang sampeyan tulis itu tidak berarti apa2. Malah mempermalukan diri sendiri saja.

    Lebih bahaya lagi kalo akibat ilusi ini trus jadi kesulitan membedakan antara mana khayalan, mana kenyataan. Ati2, itu sudah jadi gejala schizophrenia alias sakit jiwa.

  2. 2 Nina 21 September 2009 pukul 01:33

    Kita selalu lebih suka teori konspirasi yang seru dan juga sibuk menggeneralisir dan menempelkan stereotip, dibanding melihat ke dalam dan bertanya, “apa yang bisa menjadikan diri kita sendiri lebih baik?”.
    Nen, aku ngga tau banyak soal teroris di Indonesia. Mereka lulusan mana atau aliran mana. Tapi aku tau banyak saudara kita yang memahami Islam dengan cara yang berbeda. Dan sebenarnya berbeda itu pun tidak masalah selama perbedaan itu tidak lantas menjadi sumber pemaksaan dan kekerasan.
    Kita pernah mengalami kan ya, bro, ketika mengikuti pengajian di sekolah yang menyatakan “sekolah umum itu haram! karena bercampur laki-laki dan perempuan.” Atau seorang senior akhwat mengatakan “shalatmu tidak diterima karena kamu tidak berjilbab, dan dengan tak berjilbab maka kamu tidak beriman”, atau seorang junior nonmuslim yang mendapat suara terbanyak di kelas tidak ditetapkan sebagai ketua kelas karena dia bukan muslim, di SEKOLAH UMUM. Itu, bagiku, radikalisasi agama, karena agama dipergunakan untuk melanggar hak-hak asasi manusia lain.
    Dan aku suka kata-katamu tentang barat dan arab. Apakah Islam itu Arab? Belum tentu. Apakah barat itu tidak islami? Belum tentu. Banyak negara-negara barat yang menurutku lebih Islami dibanding negara-negara kaya munafik di Timur Tengah sana. Atau yang dekat saja, Indonesia.
    Tidak diperlukan teori konspirasi atau tentara penjajah untuk menghancurkan ummah. Cukup orang-orang yang berpikir dan bertindak sebagai Tuhan.
    Wallahualam bi shawab.
    ________________________

    Syaf: Hehe, peristiwa di sekolah umum itu? Masih ingat lah nin.

    Ada satu lagi yang antik: pake jeans dianggap tidak afdol karena menyerupai orang2 kaf*r.

    Untuk kasus2 macam ini ada dua kemungkinan:

    1. Seiring bertambahnya usia dan pemahaman, lambat laun mereka akan semakin bijak.
    2. Ndak ada perubahan meski umur dan nambah.

    Poin 2 ini yang ga diinginkan. Cuma prihatinnya, meskipun ‘pelanggaran2′ tadi sudah dilakukan, tetap saja proklamasi kalau islam itu jadi rahmat bagi semesta alam tetap terdengar. Kalo dah gini, ini sebenarnya rahmat atau ancaman bagi semesta alam?

    Ujungnya, klaim rahmat bagi semesta alam tinggal jadi `self-proclaim’ semata, dimana omongan dan tindakan tak nyambung. Jatuhlah mereka (Islam?) jadi bahan olok2.

    Jadi jika lantas marah diolok-olok, itu juga karena perilaku sebagian dari kita yang memang pantas diolok-olok.

  3. 3 Othe 26 September 2009 pukul 14:51

    salam kenal,
    good point mas syaf. Saya sebagai orang kristiani di Indonesia, tak prnah sekalipun berpikir kalau tindakan terorisme itu perintah jihad. Karena banyak teman muslim saya bilang, klo Noordin itu salah kaprah.(Kasihan si Noordin. Kita doakan Noordin spya diampuni dosa-dosanya, karena dia ngga tahu apa yang dia lakukan).

    Saya selalu yakin ucapan JK (jusuf kalla-buan kampanye) bahwa akar dari setiap konflik adalah ekonomi… mungkin terrorism is only symptom, the real problem is poverty..

    GBU….:)
    _________________________

    Syaf: Hehe, untuk kasus ini saya tidak sependapat dengan JK. Poverty bisa jadi merupakan pangkal banyak masalah. Tapi terorisme yang dilakukan noordin menurut saya bukan didasarkan atas alasan poverty. Seperti artikel diatas, itu disebabkan terutama oleh radikalisme agama.

    Tapi apapun itu, semoga dunia ini makin damai, jadi tempat yang makin layak dihuni. Manusia bukan lagi di-judge berdasarkan suku, golongan, atau agama yang diyakininya melainkan atas kualitas kemanusiaan universal yang dipunyainya.


Tinggalkan Balasan




Kunjungan

  • 59,222 pelancong

Masukkan alamat E-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui E-mail.