Operation Entebbe: Pembebasan Sandera Paling Spektakuler?
Pada mulanya, operasi ini dinamakan Thunderball, dikenal pula sebagai Operation Entebbe. Belakangan nama ini diganti menjadi Jonathan Operation sebagai bentuk penghormatan kepada pahlawan mereka, Jonathan Netanyahu.
Kisah bermula pada tanggal 27 Juni 1976. Sebuah pesawat Airbus milik Air France yang sebagaian besar berpenumpang warga negara Israel dibajak ketika berada diatas udara Eropa.
Pesawat ini berangkat dari Tel Aviv menuju Paris dan dibajak setelah transit di Turki. Pelaku pembajakan kemudian diketahui berjumlah 4 orang, 2 orang Palestina dan 2 orang Jerman yang salah satunya perempuan.
Pembajak selanjutnya mengarahkan pesawat ke Benghazi, Libya. Setelah mengisi bahan bakar mereka lantas membawa pesawat mengarah ke selatan menuju Uganda dan mendarat di bandara Entebbe. Idi Amin, penguasa Uganda waktu itu ternyata malah memberikan perlindungan. Di Entebbe lantas bergabung pula 4 anggota pembajak lain.
Peristiwa ini langsung menjadi pembahasan serius di Israel. Pemerintah Israel berupaya menyusun berbagai skenario pembebasan, termasuk opsi operasi militer. Sampai titik ini pembajak jelas berada diatas angin. Entebbe berlokasi ribuan kilometer dari Israel. Selain itu, mereka mendapat perlindungan penuh dari Idi Amin. Kondisi ini membuat operasi militer amat sulit untuk dilakukan.
Setelah melalui perdebatan, didapat dua skenario operasi pembebasan: 1. Menerjunkan pasukan amfibi di Danau Victoria yang berlokasi dekat bandara Entebbe untuk selanjutnya menyusup dan membebaskan sandera, 2. Mendaratkan pasukan langsung di bandara Entebbe dilanjutkan penyerbuan untuk membebaskan sandera.
Menjelang batas akhir, akhirnya skenario kedua yang dipilih, mendaratkan pasukan langsung ke bandara. Kekuatan yang akan mendarat di Entebbe dibagi menjadi dua: unit penyerbu yang akan membebaskan sandera dan pasukan pendukung yang akan berjaga mengamankan bandara.
Unit penyerbu akhirnya dipercayakan ke pasukan khusus Israel, Sayeret Matkal. Unit ini dipimpin oleh Jonathan Netanyahu, kakak dari perdana menteri Israel saat ini, Benyamin Netanyahu. Sedangkan pasukan pendukung terdiri atas gabungan pasukan lintas udara (linud) dan Brigade Golani. Iring-iringan akan terdiri atas 4 pesawat Herculas, 3 mengangkut pasukan sedang pesawat keempat akan dipergunakan untuk mengangkut sandera.
Urutan operasi secara garis besar direncanakan sebagai berikut: Hercules akan berangkat dari Israel; terbang rendah untuk menghindari deteksi radar negara-negara Arab; mendarat di Bandara Entebbe tanpa terdeteksi; unit penyerbu menuju terminal lama tempat sandera disekap; pasukan pendukung mengamankan bandara; unit penyerbu kemudian melumpuhkan pembajak plus tentara Uganda yang mungkin turut menjaga sandera; membebaskan sandera dan mengangkutnya dalam Hercules; mengisi bahan bakar di Entebbe atau Kenya; terbang pulang ke Israel.

Terminal Lama Entebbe
Jelas saja ini rencana yang ambisius. Dengan tanah asing yang harus mereka darati plus minimnya informasi intelejen, kesalahan sangat mungkin terjadi. Dalam situasi kritis macam ini, kesalahan kecil bisa berarti bencana dan jatuhnya korban.
Terlepas dari informasi intelejen yang tidak benar-benar lengkap, akhirnya pemerintah Israel pada tanggal 3 Juli 1976, memberikan lampu hijau untuk operasi ini. Setelah mendarat, pasukan penyerbu yang merupakan pasukan elit Sayeret Matkal akan menyamar dengan menaiki sedan dan dua Land Rover berplat dan berbendera Uganda.
Mereka harusĀ menuju bangunan terminal lama yang berjarak beberapa ratus meter dari tempat pendaratan tanpa terdeteksi, kemudian menyerbu untuk melumpuhkan pembajak dan membebaskan sandera. Jumlah pasukan penyerbu tentu saja terbatas, hanya 30 orang.
Tugas ini ternyata dapat dituntaskan baik oleh Sayeret Matkal. Semua pembajak akhirnya tertembak mati plus 45 tentara Uganda juga tercatat tewas. Selain itu, pasukan pendukung yang mengamankan bandara juga berhasil meledakkan 11 pesawat tempur jenis MiG-17 milik angkatan udara Uganda. Semua pesawat ini sedang parkir manis di pangkalan.
Dari 105 sandera, 3 dinyatakan tewas dan 10 lainnya luka-luka. Dari pasukan Israel hanya 1 korban tewas. Ironisnya, korban tewas ini adalah Jonathan Netanyahu, sang komandan Sayeret Matkal sendiri. Yoni -panggilan Jonathan- yang berpangkat letkol baru berusia 30 tahun ketika sebuah peluru menembus dada dan merobohkannya.
Sejak saat itu Yoni menjadi buah bibir nasional. Sebagai penghormatan, namanya kemudian disematkan kepada operasi yang telah meminta nyawa mudanya.[]
Kategori: Semesta Militer







tolong prestasi- prestasi dari sayeret matkal di tuliskan lagi..trims..
lo dukung para kike? mati aja lo ditangan KOPASSUS
pembajakan terjadi karena ulah israel sendiri
@jos, tnane pak gak ngaapusi tho kmu…..
Kapan BIN bisa berprestasi sperti Mossad yah?? perlu diancungi jempol tuh hidup Mossad!! sperti di film az wkwkwkwkakak…!
Mampus kau Palestina…!! emang sukanya cari masalah…hmmm Israel koq dilawan wkwkwkwkakak apalagi Indonesia paling dikasih angin az udah runtuh wkwkwkwkakak..!!
yang berani melawan palestina akan mati, lo juga wandi lo kalo masih nengkreng di Indonesia gue saranin berdamailah dengan siapapun yang lo sembah entah kabalah atao siapalah karena gue, Eka Ramdhan Hidayat calon pemimpin Hezbollah tidak akan segan segan memburu lo
operasi ini bukanlah operasi sukses melainkan anarkisme zionis terhadap negara lain, hanya orang2 yang tidak mempunyai hati nurani atau anak yang belum berumur diatas 13 tahun yang bilang kalau operasi ini adalah operasi tersukses, kecuali bagian intervensi negara asing, anarkis, brutal, dan tidak menghargai hak negara lain. dan herannya ada anak umur 7 tahun bandingin Indonesia dengan israel? KOPASSUS dengan operasi woylanya saja 1000X lebih baik dan efektif dari operasi jon-kingkong-atan