Bom Bunuh Diri Perempuan

| July 21, 2009 | 1 Komentar

dynamite sam 150x150 Bom Bunuh Diri Perempuan  Aksi bom bunuh diri telah menjadi momok menakutkan. Cara ini meniscayakan si pelaku ikut tewas. Pelaku pun sepenuhnya sadar, agar misi tuntas sempurna dia harus ikut terbunuh dalam ledakan.

Pelaku pemboman bunuh diri ternyata tidak menjadi dominasi kaum laki-laki. Kaum perempuan juga mencatatkan angka lumayan tinggi sebagai eksekutor bom. Debra D. Zedalis dalam bukunya “Female Suicide Bombers” menelaah fenomena pembom perempuan ini.

Serangan bom bunuh diri pertama oleh perempuan tercatat dilakukan oleh Khyadali Sana, seorang gadis berusia 16 tahun. Pada tahun 1985, Sana menabrakkan kendaraan yang berisi bom ke arah konvoi pasukan Israel dan menewaskan 2 orang.

Sejak saat itu berbagai aksi bom bunuh diri di Lebanon, Srilangka, Chechnya, Israel, dan Turki mencatatkan perempuan sebagai pelakunya. Usia pelaku pemboman berkisar antara 16-37 tahun.

Salah satu kasus terbesar adalah yang dilakukan Dhanu. Bom yang diledakkannya turut menewaskan perdana menteri India Rajiv Gandhi pada Mei 1991. Dhanu adalah seorang perempuan yang menjadi pendukung Gerakan Pembebasan Macan Tamil asal Srilangka. Macan Tamil terhitung sebagai gerakan yang banyak mengadopsi cara ini.

Perempuan digunakan sebagai pembawa bom karena umumnya mereka tidak akan dicurigai. Petugas keamanan akan cenderung fokus pada kemungkinan pelaku laki-laki hingga perempuan mendapatkan pengawasan lebih longgar. Dalam satu bom bunuh diri yang menewaskan 6 prajurit Turki, disinyalir pelakunya adalah perempuan yang sedang hamil.

Apa yang menjadi motif para perempuan ini? Hiba, 28 tahun, seorang pelatih bom bunuh diri, ibu dari lima anak berkata,”Saya harus bilang kepada dunia bahwa kalo mereka tidak membantu kami mempertahankan diri, maka kami mesti mempertahankan diri kami sendiri. Karena kami hanya mempunyai tubuh, maka tubuh ini yang akan kami gunakan.”

Pernyataan Hiba bisa menjadi ilustrasi apa yang menggerakkan mereka, meski sebab konkritnya bisa sangat banyak. Sebab-sebab ini termasuk karena alasan agama, politik, kekecewaan mendalam, kebencian yang teramat sangat, rasa malu, balas dendam, nasionalisme etnik, masalah ekonomi, dan juga karena alasan keuangan. Setiap faktor dapat memainkan peran, bergantung pada kultur kelompok dan apa yang diharapkan dari kultur itu.

Meski melibatkan alasan yang kompleks, tetap saja ini sulit dipahami nalar sehat kebanyakan.

Referensi:
Female Suicide Bombers by Debra D. Zedalis

http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/07/21/11062441%20/bunuh.diri.untuk.menang

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Kategori: Langlang Fikir

Komentar (1)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. Nina says:

    Artikel menarik, bro…judulnya the seventy two virgins quiz.
    http://lawrenceofcyberia.blogs.com/news/2006/12/the_seventy_two.html
    _________________________

    Syaf: Thanks nin..

Tinggalkan Komentar