Teror Ternyata Mirip Gosip, Makin Digosok Makin Sip

| July 18, 2009 | 3 Komentar

terror 2 150x150 Teror Ternyata Mirip Gosip, Makin Digosok Makin SipDalam hitungan menit setelah kejadian, peristiwa pemboman Ritz Carlton dan Marriot telah tersebar ke seantero jagad. Sesuatu yang mustahil terjadi 15 atau 20 tahun lalu.

Perkembangan internet, alat komunikasi dan media elektronik memungkinkan pertukaran informasi yang begitu cepat, hingga dunia menjadi terasa sebagai sebuah desa alih-alih terdiri atas 5 benua.

Namun dalam konteks terorisme, apa kecepatan informasi ini selalu menguntungkan? Sebelum pertanyaan itu terjawab, kita perlu terlebih dahulu mengasumsikan tujuan para pelaku teror.

Menurut www.dictionary.reference.com, teror diartikan sebagai “cause of intense fear or anxiety” atau sesuatu yang mampu menyebabkan perasaan takut dan kecemasan yang sangat.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa pelaku teror menghendaki tingkat ketakutan maksimal sebagai ukuran keberhasilan misinya. Skala ketakutan yang melampaui wilayah dimana operasi teror itu dilakukan. Semakin luas wilayah jangkauan kepanikan, semakin baik buat mereka.

Dengan segala kemajuan perangkat komunikasi seperti sekarang, maka terorisme pun menemukan media penguat amplitudo teror yang belum pernah terjadi sebelumnya. Orang di pelosok Kalimantan bahkan Papua, sangat mungkin turut merasakan takut dan tidak aman, padahal mereka tinggal ribuan kilometer dari pusat peristiwa langsung.

Semakin banyak dibicarakan, semakin merasuk pengaruh teror ke sela kehidupan pribadi-pribadi.  Semakin diperbincangkan, peluang para pelaku untuk menebarkan rasa was-was semakin terbuka. Semakin digosok, akan semakin sip buat pelaku terror.

Kemajuan teknologi jelas tidak bisa dinafikan, tidak mungkin menutup kanal televisi atau memblokir internet untuk membendung penyebaran berita teror. Membahas dan menelaah suatu peristiwa teror pun tidak mesti jadi harus dilarang.

Jika satu peristiwa teror terlanjur terjadi, usaha pemulihan kondisi dan kepercayaan masyarakat merupakan hal mendasar yang perlu dilakukan. Upaya kontra-teror harus segera digalang untuk meredam efek teror.

Pemerintah yang tanggap dan bergerak cepat akan menjadi obat peredam yang mujarab dan diharapkan mampu memberikan rasa aman dan percaya kepada masyarakat. Karena efek teror yang umumnya juga mengimbas sektor lain, kerja sama kompak lintas bagian dan departemen menjadi amat diperlukan.

Selain itu, pihak berwenang juga harus mampu menahan diri untuk tidak mengeluarkan pernyataan yang bersifat spekulasi yang dikhawatirkan malah semakin memperburuk suasana ketidakpastian

Namun sebaik apapun semua upaya, ini tergolong tindakan reaktif. Artinya, upaya-upaya ini diambil setelah tindak teror terjadi. Padahal, seperti kata bijak yang sering kita dengar, mencegah akan lebih murah dan efektif dibanding mengobati.

Sebagai salah satu langkah pencegah, kultur subur pencetus terorisme seperti radikalisme agama, kesenjangan kaya-miskin yang amat sangat, tingkat pendidikan yang masih rendah, mesti dikikis habis. Selain itu, pengawasan yang dilakukan masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya juga akan jadi cara jitu untuk deteksi dini upaya terorisme.

Semoga tak ada lagi teror yang terus berulang. Damai selalu Indonesiaku.[]

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

Kategori: Langlang Fikir

Komentar (3)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. Nina says:

    Jadi inget seorang temen fesbuk yang anak pejabat polisi nulis ” Masih ada 40 bom yang belum meledak! Hindari ke tempat bla bla bla…”
    Arggg! Enough! Langsung ku-hide dia >_<
    _________________________

    Syaf: Hehe..huebat. Coba kalo bom kemarin juga bisa tau sebelum meleduk

  2. KangBoed says:

    Waaaakaakaakakakkak.. terlaaaalllluuuu.. kurang kerjaann yaaaaa
    Salam Sayang

  3. [...] Pengembangan Liputan 6 http://berita.liputan6.com/producer/200907/237654/Di.Bawah.Ancaman.Teror Teror Ternyata Mirip Gosip, Makin Digosok Makin Sip Dalam hitungan menit setelah kejadian, peristiwa pemboman Ritz Carlton dan Marriot telah tersebar [...]

Tinggalkan Komentar