Ilusi, Demokrasi, Oportunis

| June 19, 2009 | 4 Komentar

Ilusi Demokrasi Oportunis 150x150 Ilusi, Demokrasi, OportunisSudah baca buku Ilusi Negara Islam? Saya baru baca sebagian. Isu besar yang ingin diangkat buku ini berkaitan dengan gerakan trans-nasional kanan.

Tak lama setelah itu (entah kebetulan atau tidak) BIN bikin pernyataan kalo gerakan trans-nasional (baik kiri atau kanan) sangat berpotensi merongrong NKRI.

Dimana juga, sesuatu yang berdaulat (negara, kerajaan, paguyuban) akan menganggap siapa saja yang berusaha merongrong kedaulatannya akan dianggap musuh utama.

Kita semua mafhum, mengambil contoh salah satu gerakan trans-nasional kanan, fokus tembak mereka pokoknya demokrasi perlu dihancurkan. Sedang di lain sisi, kita juga paham kalo salah satu yang hendak ditegakkan dalam demokrasi adalah kebebasan berpendapat dan berserikat. Dan disini terletak bagian menariknya.

Justru di negara dengan kebebasan berserikat (baca: demokrasi) seperti inilah gerakan semacam ini diberi napas hidup. Tak usah jauh-jauh ke negara diktator, di Arab sana saja, organisasi macam ini tidak akan bebas hidup karena jelas mengusung prinsip yang tidak sejalan dengan pemerintah.

Jadi mereka dapat tumbuh justru di negara dengan sistem yang mereka tentang. Berkembang biak justru di sistem yang mereka anggap kufur absolut. Setelah dapat kesempatan hidup, alih-alih memberikan kredit, eh malah hendak menghancurkannya. Dan dalam persilatan politik sikap semacam ini sudah jelas labelnya: oportunis.

Sementara itu kita, khususnya saya, juga perlu diyakinkan, sikap gerakan ini atas sesuatu yang beda. Dan disinilah letak kekhawatiran saya, karena menganggap apa yang diperjuangkannya turun langsung dari Tuhan, maka saya khawatir, setiap kritik atau perbedaan akan dianggap melawan Tuhan.

Padahal siapa yang benar-benar tahu kehendak Tuhan? Karena saya, kita, dan mereka paling banter hanya mampu menafsirkan apa yang mungkin menjadi kehendak Tuhan. Satu ayat, bisa muncul multi tafsir dan pemahaman.[]

Tags: , , , , , , , ,

Kategori: Langlang Fikir

Komentar (4)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. saleh aziz says:

    bagus sekali. setuju.!! baru kali ini saya melihat lulusan ITB yang tidak menjadi seorang fundamentalis. biasanya kan IPB,UGM, UI dll adlah sarang fundamentalis . biasanya lulusan ITB itu orangnya keras ,arogan,sok tau,kalau dia tidak kafir ya sangat religius ,pelihara jenggot ,kening gosong sperti Tifatul sembiring.
    __________________________

    Syaf: Lha sampeyan lulusan mana om? Kok ngomongin orang mulu. Gagal masuk univ2 itu ya?

  2. adhe_tolaki says:

    tentu saja pendapat sampeyan akan bertolak belakang dengan teman teman yg dicap dalam buku tersebut sebagai gerakan trans-nasional. Dasarnya adalah secara jelas terdapat dalam Alquran maupun hadist. sedangkan sampeyan tidak menjadikan dasar itu sehingga pasti akan bertolak belakang, heheheee……..
    _________________________

    Syaf: Ada dasarnya dalam qur’an atau sampeyan saja yang mencocok-cocokkan dengan qur’an?
    Mosok qur’an ngajarin jadi oportunis..Come on, slap your own face..

  3. e-man says:

    Bung!!! hebat sampeyan bung. Baru baca sbagian sudah bs menyimpulkan. Ini namanya sok kuminter. Kebenaran dari Allah itu pasti membawa kebaikan buat manusia dan itu hanya diperoleh dengan menegakan Negara Khilafah Islam. Negara Demokrasi hanya bikin sengsara saja.

  4. Din Ardian Adyaksa says:

    Assalamu’alaikum ww.,
    Setahu saya Islam tidak mengenal bentuk negara, jadi apa yang dijalankan di negara-negara Timur Tengah tidak lah mengambil sistem Kekhalifahan seperti yang dicontohkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Para penguasa di Timur Tengah memang merupakan pemimpin-pemimpin yang diktator, karena mereka tidak memegang Al-Qur’an dan As-Sunnah.
    Zaman sekarang seperti apa yang sudah di-nubuatkan oleh Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dalam hadits riwayat Imam Ahmad/17680 , bahwa kita hidup di era Mulkan Jabbriyan, dimasa Raja-raja yang Diktator yang bersembunyi di balik slogan Demokrasi (mari menelaah tulisan Ustadz Ihsan Tanjung di http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/85-tahun-umat-islam-hidup-bak-gelandangan-tanpa-rumah.htm).
    Negara Islam memang sebuah ilusi karena tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Kita hanya sekedar menunggu datangnya masa-masa kembalinya periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah dengan datangnya Imam Mahdi, dan semua itu karena memang skenario Alloh bukan karena skenario manusia sehingga mesti ikut-ikutan terjun dalam demokrasi seperti keinginannya orang-orang Yahudi. Wallahua’lam bishowab
    Wassalamu’alaikum ww.

Tinggalkan Komentar