Ilusi, Demokrasi, Oportunis

Sudah baca buku Ilusi Negara Islam? Saya baru baca sebagian. Isu besar yang ingin diangkat buku ini berkaitan dengan gerakan trans-nasional kanan.

Tak lama setelah itu (entah kebetulan atau tidak) BIN bikin pernyataan kalo gerakan trans-nasional (baik kiri atau kanan) sangat berpotensi merongrong NKRI.

Dimana juga, sesuatu yang berdaulat (negara, kerajaan, paguyuban) akan menganggap siapa saja yang berusaha merongrong kedaulatannya akan dianggap musuh utama.

Kita semua mafhum, mengambil contoh salah satu gerakan trans-nasional kanan, fokus tembak mereka pokoknya demokrasi perlu dihancurkan. Sedang di lain sisi, kita juga paham kalo salah satu yang hendak ditegakkan dalam demokrasi adalah kebebasan berpendapat dan berserikat. Dan disini terletak bagian menariknya.

Justru di negara dengan kebebasan berserikat (baca: demokrasi) seperti inilah gerakan semacam ini diberi napas hidup. Tak usah jauh-jauh ke negara diktator, di Arab sana saja, organisasi macam ini tidak akan bebas hidup karena jelas mengusung prinsip yang tidak sejalan dengan pemerintah.

Jadi mereka dapat tumbuh justru di negara dengan sistem yang mereka tentang. Berkembang biak justru di sistem yang mereka anggap kufur absolut. Setelah dapat kesempatan hidup, alih-alih memberikan kredit, eh malah hendak menghancurkannya. Dan dalam persilatan politik sikap semacam ini sudah jelas labelnya: oportunis.

Sementara itu kita, khususnya saya, juga perlu diyakinkan, sikap gerakan ini atas sesuatu yang beda. Dan disinilah letak kekhawatiran saya, karena menganggap apa yang diperjuangkannya turun langsung dari Tuhan, maka saya khawatir, setiap kritik atau perbedaan akan dianggap melawan Tuhan.

Padahal siapa yang benar-benar tahu kehendak Tuhan? Karena saya, kita, dan mereka paling banter hanya mampu menafsirkan apa yang mungkin menjadi kehendak Tuhan. Satu ayat, bisa muncul multi tafsir dan pemahaman.[]

Tulisan terkait:

2 Tanggapan ke “Ilusi, Demokrasi, Oportunis”


  1. 1 saleh aziz 14 Juli 2009 pukul 20:23

    bagus sekali. setuju.!! baru kali ini saya melihat lulusan ITB yang tidak menjadi seorang fundamentalis. biasanya kan IPB,UGM, UI dll adlah sarang fundamentalis . biasanya lulusan ITB itu orangnya keras ,arogan,sok tau,kalau dia tidak kafir ya sangat religius ,pelihara jenggot ,kening gosong sperti Tifatul sembiring.
    __________________________

    Syaf: Lha sampeyan lulusan mana om? Kok ngomongin orang mulu. Gagal masuk univ2 itu ya?

  2. 2 adhe_tolaki 26 Agustus 2009 pukul 22:52

    tentu saja pendapat sampeyan akan bertolak belakang dengan teman teman yg dicap dalam buku tersebut sebagai gerakan trans-nasional. Dasarnya adalah secara jelas terdapat dalam Alquran maupun hadist. sedangkan sampeyan tidak menjadikan dasar itu sehingga pasti akan bertolak belakang, heheheee……..
    _________________________

    Syaf: Ada dasarnya dalam qur’an atau sampeyan saja yang mencocok-cocokkan dengan qur’an?
    Mosok qur’an ngajarin jadi oportunis..Come on, slap your own face..


Tinggalkan Balasan




Kunjungan

  • 59,222 pelancong

Masukkan alamat E-mail Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui E-mail.