Memilih Pilihan

| June 10, 2009 | 1 Komentar

Memilih Pilihan1 150x150 Memilih PilihanOrang, jika berperilaku pasti ada penyebabnya, ada pencetusnya. Ketika orang merasa dirinya terjepit, maka nalurinya bisa membuat seseorang mengeluarkan perilaku yang tidak terduga.

Ada benarnya bahwa kita tidak sepantasnya menghakimi seseorang hanya karena suatu tindakan yang kemudian dinisbatkan secara keseluruhan pada diri dia.

Benar juga bahwa orang berperilaku tertentu pasti ada penyebabnya. Dan dalam banyak hal penyebab ini adalah sesuatu yang berada diluar kendali seseorang.

Namun, respon untuk menanggapi suatu penyebab yang tidak menguntungkan inilah yang berbeda untuk setiap orangnya. Dengan kata lain, masing-masing individu memiliki “pilihan” untuk merespon sebuah penyebab.

Jadi sangat mungkin, ada 2 orang yang mengalami peristiwa duka, yang satu dapat menerima dengan hati lapang, sedang yang lain menjadi putus asa dan kehilangan harapan.

Menurut saya, “kecerdasan” untuk mampu merespon suatu penyebab –yang negatif sekalipun- dengan cara se positif mungkin inilah yang mesti selalu diasah. Sehingga kemudian seseorang mempunyai kemampuan merespon penyebab dengan lebih positif.

Ini pula yang akan turut membedakan “kualitas” manusia yang satu dengan yang lain. Pilihan respon ini pula yang saya yakin kelak akan dipertanggungjawabkan.[] 

Tags: , , , , , , ,

Kategori: Nutrisi Jiwa

Komentar (1)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. Nina says:

    Memilih Pilihan.
    Seperti kalo krucil di rumah berantem…kualitasku menentukan apakah aku memilih untuk menjewer kuping mereka atau memberi mereka Time Out. ^^
    Karena bahkan orangtua pun tidak berhak menyakiti anaknya…
    ________________________

    Syaf: Betul, ndak boleh disakiti, tapi jangan pula di umbar tanpa rambu. Disini letak seni memilih pilihannya, di tengah, ga condong ke satu ekstrim…*halah macam dah pengalaman saja ;p*

Tinggalkan Komentar