Cerita Seorang Kawan di Negeri Sana

| June 7, 2009 | 5 Komentar

Cerita Seorang Kawan di Negeri Sana 150x150 Cerita Seorang Kawan di Negeri SanaSaya punya cerita dari seorang kawan yang pernah bermukim di satu negara berhukum Islam.

Jadi ini cerita asli, bukan rekaan. Istri teman ini berkerudung, saat jadi mahasiswa keduanya aktif di kegiatan dakwah kampus.

Pada suatu saat, teman ini sedang berada di London karena ada urusan. Waktu itu sudah malam. Yang tinggal di rumah hanya istri dan anaknya yang masih kecil.

Tiba-tiba terjadilah kecelakaan itu. Anak balitanya terjatuh dan terluka di pelipis. Darah yang keluar begitu banyak hingga muka si anak belepotan darah.

Si ibu jelas langsung panik. Di rumah tak ada orang lain, suaminya sedang di London.Terpikir untuk mengetuk pintu tetangganya buat minta bantuan. Tapi niat itu langsung dibatalkan.

Di negara ini, pantang seorang perempuan tanpa muhrim mengetuk pintu rumah orang lain, apalagi di tengah malam. Jika dia nekat mengetuk, urusan bisa panjang.

Akhirnya keliling kompleks si ibu ini cari bantuan. Setelah beberapa lama, sampai lah dia di depan rumah seorang Rumania. Segera diketuk rumah itu. Dan tanpa buang waktu, si tuan rumah ini mengantar mereka ke rumah sakit, bahkan ditungguinya hingga semua beres.

Di akhir cerita, teman ini berkomentar, “Saya ndak habis pikir. Saya punya tetangga muslim. Saya tinggal di negara Islam. Tapi ketika terjadi peristiwa itu, saya malah mesti minta tolong orang Rumania, bukan ke tetangga muslim saya.”

Dalam hati saya membatin,”Ini niscaya terjadi karena aturan tak menginjak bumi. Bahasa langit mesti dibumikan agarĀ  jadi solusi bagi penghuni bumi. Aturan jangan malah mempersulit dan menimbulkan kontradiksi.”[] 

Tags: , , , , , , , ,

Kategori: Langlang Fikir

Komentar (5)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. Nina says:

    God Bless that Romanian neighbour..IMO, dia lebih Islami dibanding tetangga muslim yang menolak menolong karena bukan muhrim.
    Jadi inget cerita “Gusti Allah TIdak Ndeso” ya, Nend…
    Sigh. Allahu’alam.
    Have a great day, bro :)
    _________________________

    Syaf: Gusti Allah juga ora sare, nin..

    You too, have a wonderful day..

  2. Wah, kapan ya kami bisa nyusul ke luar negeri?

  3. Nina says:

    Nen, ini ada cerita menarik tentang muslimah di Amman( I think she’s American} http://southernmuslimah.blogspot.com/2009/06/gone-to-dogs.html
    ________________________

    Syaf: Boleh ni..Nuwun link nya

  4. hasbi says:

    sy melihat kasus tsb dlm posisi darurat, seharusnya para tetangga, bahkan penguasa (yg menerapkan hukum) bisa memahami mslh tsb.
    Allah menjadikan hukumNYA sbg kemaslahatan bagi manusia, jika hukumNYA dirasa membawa mudharat maka manusialah yg harus lbh belajar mendalaminya.
    spt hukum makan daging hewan yg haram ketika kita tersesat di hutan & tdk ada makanan apapun.

    Wallahu a’lam bissowab…

  5. Jemy Polii says:

    saya hanya menyimpulkan saja bahwa hukum dalam perspektif agama berlaku pada saat si ibu ini punya niat negatif, sementara dalam cerita ini kan si ibu punya niat baik dan suci harus menyelamatkan
    ‘darahdaging’nya. jadi kalupun tindakan si ibu ini mengetuk pintu tetangganya yang juga muslim, yach itu nda masalah. Klau mungkin niatnya tidak benar, maka disitulah berlaku hukum agama.
    Dalam kristen pun ada hal seperti itu.sama maknanya, tapi dalam dalam cerita yang lain. yakni: adanya hari sabat apakah orang bisa bekerja? jawabannya adalah Markus 3 : 4-5
    _________________________

    Syaf: Dalam kondisi darurat bisa dipahami bahwa ibu ini memilih mengetuk pintu tetangga rumanianya, dibanding mengetuk tetangga muslimnya, ditanya2, mesti menjelaskan, belum jika akhirnya ditolak, sedang anaknya membutuhkan tindakan segera.

Tinggalkan Komentar