Gunakan Akal Kritis, Jangan Dungu Seperti Useful Idiots
Berbagai macam tindak kekerasan manusia atas manusia lain masih terus terjadi. Tindak pelenyapan fisik, jiwa, atau etos untuk bisa hidup damai terjadi berulang-ulang.
Namun, menjadi ironi mendalam ketika tindak teror ini dilakukan atas nama agama atau sembari melibatkan agama di dalamnya. Seperti kita saksikan, beberapa pelaku teror menggunakan simbol-simbol agama tanpa sungkan.
Penjelasan yang mudah tentu dengan mengatakan itu terjadi karena para pelakunya tidak memahami ajaran agama atau memahami ajaran agama secara keliru.
Kemudian muncul pertanyaan susulan: Apa sebab penganut agama memahami ajaran agama secara keliru?
Pertama, kita akan memahami gejala useful idiots, frase yang merupakan pernyataan Lenin. Frase ini menunjuk pada simpatisan komunis yang mudah ditipu dan menelan begitu saja seluruh ajaran partai.
Mereka percaya apa yang dikatakan partai, meski apa yang diajarkan itu seluruhnya bohong. Ini menunjukkan di satu sisi ada yang menipu, di sisi lain ada yang mau atau mudah ditipu.
Mendidik insan muda menjadi “religius” dengan menutup kemungkinan untuk memahami orang lain yang berbeda dengan dirinya dan keyakinannya akan membuat orang menjadi apa yang disebut fach-idioten (ahli yang bodoh, melulu tahu satu hal saja), kemudian menjadi fanatik dengan kepercayaan yang dianutnya.
Insan yang fanatik dan idiot dengan mudah akan menjadi insan yang useful, yakni manusia yang mudah digunakan. Insan-insan demikian hanya butuh khotbah atau jargon tertentu.
Tanpa paham sungguh, dan tanpa mengkritisi suatu jargon, para useful idiots siap membela sampai sampai mati setiap agenda, meski harus membuat luka kemanusiaan. Lebih parah lagi, para useful idiots tidak bisa lagi membedakan mana pernyataan yang secara logika benar dan mana pernyataann yang secara logis sudah amat berantakan.
Kebanyakan para useful idiots adalah orang-orang yang kurang pengetahuan atau yang karena berbagai sebab pengetahuannya dikurangi sehingga mudah menjadi percaya. Orang yang kurang pengetahuan umumnya karena kurang sarana dan niat untuk mencari bahan, dan kritis terhadap bahan.
Sikap malas, termasuk malas memperluas pengetahuan dan malas keluar dari diri dan memahami sesuatu yang baru, membuat orang menjadi kurang pengetahuan. Orang-orang demikian adalah mereka yang amat cepat merasa puas dengan dirinya tanpa mau menjadi lebih maju dengan bekerja keras.
Sedangkan orang yang pengetahuannya dikurangi adalah orang-orang yang disituasikan dalam keadaan tertutup sehingga orang-orang itu tidak boleh cerdas, dan proses pembodohan berjalan perlahan tapi pasti.
Salah satu yang bisa mendobrak “kuasa kegelapan” ini adalah sikap berani dan kritis. Keberanian adalah suatu virtue, keutamaan. Dalam keutamaan ini ada knowledge, suatu sikap yang penuh keberhati-hatian dalam berpikir dan memutuskan sesuatu untuk bertindak sehingga tindakan yang dihasilkan adalah tindakan yang tepat dan bijaksana.[]
Kategori: Langlang Fikir





Aku beriman maka aku bertanya