Dimana Batas Akal?

| April 10, 2009 | 0 Komentar
 Dimana Batas Akal 150x150 Dimana Batas Akal?“Jangan terlalu rasional, akal itu terbatas”

“Sesungguhnya akalmu terbatas, engkau tidak akan mampu memikirkan sesuatu diluar penalaranmu”

“Jangan mempertanyakan yang telah jadi kesepakatan, sesungguhnya akalmu terbatas”

Tidak terbantahkan kalau akal mempunyai keterbatasan. Namun, dimana sebenarnya batasnya? Adakah yang benar-benar bisa menentukan batasnya dengan pasti?

Jangan-jangan kita telah membuat batasan sendiri dengan menentukan batas untuk sesuatu yang tidak tak terbatas? Sengaja mengerdilkan kemampuan yang sesungguhnya mampu menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang begitu luas?

Di catatan hariannya, Ahmad Wahib mengumpamakan akal seperti sebuah ruangan. Selama seseorang masih bisa menjelajah bebas dalam ruangan itu berarti dia belum menemukan batas. Namun ketika dia berusaha menembus tembok maka dengan sendirinya dia akan gagal. Tak perlu diberi penghalang apapun, usaha menembus tembok dengan sendirinya akan gagal.

Mirip pula dengan akal. Selama masih bisa berpikir ataupun menelaah dengan baik, berarti dia belum sampai pada batas akalnya. Namun ketika pengembaraannya seakan membentur tembok dan setiap usaha untuk menembusnya mengalami kegagalan itu pertanda dia telah mendekati batas dari kemampuan penalarannya.

Selama belum mencapai batas tembok akal, berarti belum sampai seseorang ke batas akalnya. Selama masih berada dalam ruang akal bolehlah dia menjelajah dan mengembara dengan bebas. Menemukan kemungkinan dan pemahaman yang maha luas.

Namun jangan bayangkan ruang akal ini sesuatu yang tetap dan berukuran seragam. Setiap perenungan, belajar tanpa henti, dan usaha untuk terus menyempurnakan pemahaman atas segala sesuatu akan mengembangkan ruang akal.

Jadi tak perlu bersikap memusuhi atau dengan sengaja memberi batas pada akal -pemberian luar biasa dari Tuhan yang membuat manusia beda dari ciptaan-Nya yang lain.

Apalagi jika tidak mengetahui pasti sebenarnya dimana letak batas akal. Lebih-lebih jika pembatasan ini hanya ditujukan meredam suara kritis, untuk menutup kebodohan diri sendiri, atau membangun jajaran pengikut yang mesti tunduk tanpa mempertanyakan.[]

Tags: , , , , , , , ,

Kategori: Langlang Fikir

Tinggalkan Komentar