Gedung Bernama Orang

| February 28, 2009 | 3 Komentar

Gedung Bernama Orang 150x150 Gedung Bernama OrangTanggal 25 Pebruari 2009 lalu, Kompas memuat berita mengenai sumbangan pengusaha nasional Aburizal Bakrie sebesar Rp. 25 milyar bagi pembangunan laboratorium teknik di ITB.

Sebagian alumni lantas mengeluarkan petisi yang intinya menghimbau ITB untuk menolak sumbangan tersebut.

Satu alasan penolakan adalah agar Aburizal menuntaskan terlebih dahulu ganti rugi Lapindo sebelum malah menyumbang milyaran rupiah.

Secara hukum bisa saja tidak ada masalah, tapi ini jadi tidak pas dipandang dari sisi etika. Bagaimana ITB akan menerima sumbangan sedang korban lumpur yang semestinya lebih berhak menerima dana itu belum tertuntaskan semua haknya.


Sumbang-menyumbang sebenarnya sudah jadi sesuatu yang normal jika dilakukan pada situasi yang normal juga. Di Amerika ini malah jadi perihal yang lebih normal lagi. Di University of Utah -tempat saya berguru sekarang- sebagian besar gedung-gedung kampus dinamai dengan nama orang.

Sebagai contoh, Gedung Departemen Pertambangan diberi nama William Browning Building, Gedung Engineering dikasih nama Warnock Engineering Building, atau stadion olahraga yang diberi nama Rice-Eccles Stadium.

William Browning, Warnock, dan Rice-Eccles jelas nama orang. Mereka adalah orang-orang yang mendonasikan uangnya untuk membangun gedung-gedung tersebut.

Kalaupun tidak semuanya, setidaknya orang-orang inilah yang menanggung sebagian besar biaya pembangunan. Atas ‘jasa’  yang telah diperbuat, nama mereka kemudian diukir menjadi nama gedung yang mereka sokong.

Ini jelas fenomena menarik. Universitas akan sangat terbantu dengan banyaknya donatur yang bersedia membantu pembangunan sarana kampus, sedang para donatur kaya juga dapat memastikan kalau dana yang mereka sumbangkan digunakan sebesarnya untuk kemanfaatan bersama.

Sumbangan Aburizal Bakrie ke ITB sebenarnya bisa jadi angin segar. Setidaknya bisa jadi preseden tumbuhnya kultur filantropis antara perguruan tinggi dengan alumninya. Sayang, sumbangan ini diberikan pada waktu dan kondisi yang tidak tepat.

Ini yang membuat saya sepakat dengan semangat petisi itu, keluarga Bakrie memang selayaknya mendahulukan penyelesaian kasus Lapindo terlebih dahulu.[] 

Tags: , , , , , , ,

Kategori: Americana

Komentar (3)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. nina says:

    Jujur ndi, aku termasuk yang anti sama Ical. Masih inget komen-komennya yang ngga simpatik dan empatik kalo diwawancara wartawan tentang lumpur lapindo.
    Apalagi denger dia dijadiin salah satu capres dari golkar, hmpphhh!!!

    Kasian ITB…^^
    ________________________

    Syaf: Makanya Ical trus digeser jadi menko yang ngurusi masalah sosial:)

  2. ponseli says:

    setuju banget, setidaknya orang kaya indonesia ini memikirkan para korban lapindo

  3. Nauval says:

    Yup..setuju..selesain urusan Lapindo duLu..

    Salam kenaL..

Tinggalkan Komentar