Coretan Isme-isme: Sosialisme, Kapitalisme, Komunisme..
Sejak jamannya bapak pendiri bangsa dulu, kapitalisme dan sosialisme selalu dipertentangkan.
Waktu itu kapitalisme identik dengan kaum penjajah. Kaum yang menguras semua kekayaan jajahan dan hanya menyisakan sepah yang sudah disesap habis.
Ide ini terang saja tak laku di negara-negara yang sedang berjuang untuk kemerdekaannya. Meski sebenarnya penjajahan itu tidak pernah benar-benar berakhir hingga sekarang, melainkan hanya bersulih rupa.
Sebelum berlanjut jauh perlu diperjelas dulu kalo sosialisme tidak selalu sama dengan komunisme. Komunis sudah pasti sosialis, tapi sosialis belum tentu komunis. Sosialisme lebih untuk menyebut sistem ekonomi, sedang komunisme adalah sistem politik.
Di jaman-jaman itu sosialisme (sebagai sistem ekonomi) dan Marxisme (sebagai ide politik) lah yang paling laku di tengah kaum pejuang kemerdekaan bangsa-bangsa. Karena ide-ide ini mewakili golongan tertindas dan teraniaya.
Mengambil beberapa contoh: Sukarno mengusung Marhaenisme (sosialisme ala Indonesia), Hatta melalui koperasinya (ekonomi kerakyatan), Syahrir dengan PSI nya.
Ada pula beberapa tokoh yang melandaskan Islam sebagai dasar perjuangan. Tapi perlu penelaahan lebih jauh mengenai rumusan sistem ekonomi khas yang mereka ajukan.
Kapitalisme dan sosialisme sendiri tidak pernah mandeg. Mereka senantiasa merubah diri dan menyesuaikan. Di negara-negara Eropa Barat dimana sosialisme murni tidak akan laku maka mereka menyesuaikan diri menjadi sosial demokrat. Beberapa partai sosdem bahkan pernah memegang pemerintahan, antara lain di Jerman.
Sedang di beberapa negara kapitalis, mereka pun merubah diri dengan mengadopsi ide negara kesejahteraan (welfare state). Intinya, negara campur tangan lebih banyak untuk “memaksakan” pemerataan, sehingga kemakmuran tidak menumpuk di segelintir orang.
Negara macam ini biasanya dicirikan dengan pajak yang amat tinggi, bisa sampai 50% penghasilan. Negara-negara Skandinavia bisa dijadikan contoh.
Mungkin salah satu buku yang bisa menggambarkan evolusi kapitalisme dan sosialisme ini adalah karangannya Anthony Giddens, The Third Way. Buku ini mengupas soal Jalan Ketiga, jalan selain kapitalisme dan sosialisme (atau mungkin gabungan keduanya).
Yang menarik adalah kasus Uni Sovyet sebagai negara komunis paling utama. Berdasar ramalan Marx, pendukung komunisme sangat percaya bahwa kapitalisme mengandung begitu banyak kontradiksi, sehingga kehancuran kapitalisme adalah sebuah keniscayaan dan akan terjadi dengan sendirinya.
Terbukti ramalan itu salah, komunisme runtuh lebih dulu dibanding musuhnya. Negara utopis ala Marx pun belum pernah terwujud.
Fleksibel, mungkin itu salah satu kuncinya. Kapitalisme senantiasa mau menyesuaikan, sedang kaum komunis memperlakukan ajaran Marx seperti dogma yang pasti benar dan final, tak mungkin salah apalagi diubah.
Disinilah kita bisa mengambil pelajaran.[]
Kategori: Langlang Fikir






Nend, Hugo Chavez bilang dia butuh waktu lebih lama untuk melanjutkan pembangunan sosialisme di Venezuela. Akhirnya referendum yang menghilangkan batas waktu memerintah diadakan. Amerika, Uni Eropa dah mencak-mencak aja tuh >,<
_________________________
Syaf: Salut juga buat Chavev dan Evo Morales yang berani bilang tidak.
Tapi aku juga rada menyayangkan kalo Chavez trus mo berkuasa terus. Namanya juga power, setulus apapun niatnya tapi kalo kelamaan rawan juga pada penyelewengan.
Satu yang aku lupa tulis di komenku sebelumnya nen…
bahwa perubahan waktu berkuasanya Chavez dilakukan dengan REFERENDUM. Yang berarti dia minta pendapat rakyatnya. Kalo menang berarti banyak yang setuju dengan Chavez. Kalo kalah seperti referendum sebelumnya berarti memang rakyatnya ndak mau dia berkuasa lagi. Fair enough, isn’t it? Cuma media saja yang mungkin melebih-lebihkan ‘kejelekan’ Chavez karena dia termasuk pemimpin yang ngga mau didikte sama ‘demokrasi’ dan kapitalis Barat.
Eh, serius bener daku yak, kikikikik!
__________________________
Syaf: Chavez emang berani beda. Ga tau gimana detilnya, tapi semoga Chavez bikin referendum ini secara berkala.
Tau sendirilah, kekuasaaan bisa bikin orang jadi lupa. Sekarang baik, tapi belum tentu 10 tahun lagi.
Jadi biar dia juga ada yang ngontrol.