(Masih) Fatwa Golput Pemilu
Sudah banyak tulisan canggih yang membahas ini. Tapi tak apalah, satu oretan tambahan toh tidak akan memberi banyak pengaruh juga.
Di negara demokrasi, memberikan suara dalam pemilu dihukumi sebagai hak. Karena merupakan hak, seseorang bisa memutuskan akan menggunakan atau menolak hak itu. Ini menjadikan tatarannya di kesadaran dan sikap sukarela, bukan keharusan.
Indonesia itu sudah lumayan beruntung, masyarakatnya mendapat kesempatan buat memilih. Biar kadang jadi keseringan karena dari tingkat RT sampai presiden semua ngadain coblosan. Tapi tetap ini jadi kenikmatan yang di sebagian dunia lain mereka hanya bisa memimpikannya.
Namun, dengan fatwa kalau golput haram, yang tadinya hak sekarang berubah jadi kewajiban. Ini yang jadi kurang pas. Memang lebih baik, jika ada kesempatan, maka gunakan hak pilih Anda, tapi tetap saja ini bukan berarti mesti jadi wajib. Kalo dibuat urut-urutan hukum, mungkin lebih cocoknya makruh, tidak digunakan boleh, tapi tidak disukai.
Memang betul, fatwa-fatwa MUI ini tidak mengikat, ini cuma dijadikan sebagai panduan bagi umat. Tapi buat apa bikin panduan kalo akhirnya tidak akan dipatuhi?
Saya khawatir, kalo begini MUI malah jadi bahan tertawaan. Sambil bertanya-tanya, apa mungkin umat ini masih sedemikian bodoh sehingga yang seperti ini masih memerlukan fatwa. Yang hak pun mesti sampai perlu dijadikan wajib untuk memastikan umat tidak melenceng.
Atau ini bentuk belum percayanya para pemimpin atas ‘judgement’ rakyatnya? Kalo pimpinan itu sudah pasti lebih bijak dibanding yang dipimpin? Hingga kampanye atau himbauan nyoblos saja belumlah dirasa cukup sampai perlu dibuatkan hukum wajibnya.
Yang juga penting, kenapa rakyat yang mesti jadi objek? Mengambil contoh ini, rakyat lah yang dioprek-oprek untuk ikut milih. Padahal mungkin sebagian memutuskan ga milih karena apatis lihat perilaku elitnya yang tidak kunjung sopan.
Baik sangkanya, MUI ingin membantu pemerintah. Ikut nyumbang tenaga buat menyukseskan pemilu yang biayanya pasti bejibun. Niatan yang tentu saja baik, sambil kita menunggu fatwa-fatwa lain yang lebih substansial dan bukan berkutat melulu di sekitar kulit.[]
Tulisan terkait:
Sumber gambar: http://3.bp.blogspot.com/_LMQsDvnvfBs/SKrpIktYunI/AAAAAAAAAA4/7OPVJQW1AA4/s320/ka-pemilu41.jpg
Kategori: Langlang Fikir







Bingung juga ya, mau milih kok belum ada yang dipercaya. Ndak milih, jadi dosa sekarang. Yah, diambil positipnya aja. Jadi kudu lebih rajin mikir dan mencari tau, mana yang amanah dan ahli untuk jadi pemimpin. Lagian kalo memilih gampang, suruh aja anak TK yang ikutan PEMILU, hehehe…
Soal rokok haram kok ndak dibahas, Pak?
_________________________
Syaf: Hi, nin
Wah, kalo cuma buat mikir n cari tau, ga ada fatwa juga bisa:)
Biarpun tidak ada yang dipercaya, saya tetap memilih….
Hi Good night and great nice http://baganbatublog.blogspot.com/
_________________________
Syaf: Met nyoblos ni..Have a good night too
Terimakasih informasinya.
Saya setuju dengan fatwa MUI tentang golput dan rokok.
Hal ini penting agar Umat Islam di Indonesia lebih rahmatan lil’alamiin.
Untuk informasi lengkapnya silahkan mampir ke “Sosiologi Dakwah” di http://sosiologidakwah.blogspot.com
Sekali lagi, terimakasih informasinya, yaaa….
haram, makruh, mubah, sekarang kok makin membingungkan ya nen…
seolah alim ulama sekarang bisa membuat list dosa baru.
ga habis pikir, bagaimana diskusinya didalam MUI itu sampai bisa mengharamkan golput, ketika kewajiban untuk memilih pemimpin itu adalah fardhu kifayah, dan seperti yang nendi bilang juga, cuma ‘hak’ di negara demokrasi ini.
_________________________
Syaf: Hehe..ntahlah..
Memang kalo dilihat bunyi lengkap fatwanya, tidak semua golput lantas dianggap haram, pokoknya ada klausulnya .
Cuma mo sebagain or seluruhnya tetep saja, memilih itu hak, ga bisa dipaksakan. Paling banter dihimbau atau dikampanyekan.
Jika gak milih saja haram hukumnya..gimana bila kita memilih tapi memilih orang yang salah karena ketidaktahuan dan keterpaksaan kita untuk memilih, apa gak lebih dosa lagi??
________________________
Syaf: Berharap saja kita senantiasa makin arif dan dewasa. Biar bangsa ini lekas maju, ga jalan di tempat saja.
pilihan adalah suatu kebebasan umat manusia…..