We Shall Overcome & Martin Luther King
We shall overcome
We shall overcome
We shall overcome some day
CHORUS:
Oh, deep in my heart
I do believe
We shall overcome some day
We are not afraid
We are not afraid
We are not afraid some day
CHORUS:
Oh, deep in my heart
I do believe
We shall overcome some day
Sekira 300.000 orang pernah bersama menyanyikan lagu ini. Saat itu Agustus 1963, para pengunjuk rasa berkumpul di Lincoln Memorial. Seterusnya, mereka berarak menuju Washington, dipimpin oleh seorang kulit hitam, Martin Luther King, Jr.
Sampai di ibukota kemudian dia berpidato, menyadarkan publik atas persamaan hak-hak sipil. Menganjurkan perlawanan tanpa kekerasan. Tak boleh ada yang namanya segregasi ras atau pembedaan atas warna kulit. Semua manusia dilahirkan sama adanya. Pidato itu begitu melegenda, I Have a Dream.
Tahun 1964 King menjadi penerima Nobel Perdamaian termuda di usia yang baru 35. Sepanjang sisa hidupnya dia terus berjuang melawan kemiskinan dan menuntut penghentian perang Vietnam.
Tapi rupanya ada orang yang justru menaruh benci tebal, hingga 4 April 1968 King dibunuh di Tennessee. Ketika dia tengah berdiri di balkon sebuah hotel.
Setelah kematiannya, pemerintah AS kemudian menetapkan 19 Januari sebagai hari Martin Luther King, Jr.
Selain King, ada orang-orang lain yang juga berani menghadapi resiko terbesar berupa tercabutnya nyawa demi sebuah prinsip yang mereka yakini. Untuk orang-orang semacam ini, saya mesti memberikan penghormatan.
Sebelum mereka sampai pada ketetapan hati seperti itu, pergulatan dan kegelisahan panjang pasti telah terjalani sebelumnya. Dorongan hidup normal pasti tak kenal menyerah menarik mereka untuk meninggalkan saja semua yang telah menjadi keyakinan. Hidup nyaman dan tenang bersama anak istri tercinta di damainya rumah tentu lebih menggiurkan dibanding mesti bergulat dalam ketidakpastian dan marabahaya.
Apa mereka tidak pernah merasa takut? Saya yakin mereka pernah takut. Namun setiap kali datang rasa takut, setiap kali pula keteguhan hati mampu memenangkannya.
Dibanding mereka-mereka, beban di pundak kita belumlah bisa dibandingkan. Prinsip dan nilai yang mungkin ingin kita tegakkan sama sekali tidak meminta taruhan nyawa.
Jadi kalo cuma buang sampah di tempatnya, tidak nyontek ujian, ato beli tiket sepur dan bukannya mbayar kondektur di gerbong, kok sudah mulai lupa, jadi kelas kita masih terpaut terlampau jauh dibanding mereka.[]
Tulisan terkait:
Sumber gambar: http://www.wvu.edu/~lawfac/jscully/Race/images/we%20shall%20overcome.jpg
Kategori: Langlang Fikir





waktu OSKM dulu kita diajarin nyanyi lagu ini, dikau ikut nyanyi tak?
_________________________
Syaf: We, OSKM dulu aku ketua serikat lho,,,serikat 50 atau 51 ya, rada lupa. Jadi rajin ikut OSKM, nyanyi nya juga paling semangat:)
lha, adjeng ini anak Gajah Duduk juga yak ^_^
jurusan apa,jeng?
OSKM daku tak berbekas, kebanyakan homesick dan kangen jogja…hehehe!
really really nice song. Inget lagu “mentari” ngga?
_________________________
Syaf: Kamu jurusan tambang kan djeng?Hehe..anak kimia nin.
Mentari? Hmm, ini lagu paling favorit.