Kebencian Berlandas Agama

| January 4, 2009 | 11 Komentar

 Kebencian Berlandas AgamaKenapa kebencian atas nama agama sulit diredam? Ada setidaknya dua sebab :

Pertama, mistifikasi motif kebencian. Agama memberi landasan ideologis dan pembenaran simbolis. Ketika berperang melawan yang berbeda, mereka merasa membela iman dan kebenaran, dengan kata lain, demi Tuhan sendiri. Cuma anehnya, pihak lawan pun mempunyai alasan yang sama. Begitulah konflik menjadi langgeng, tidak kunjung usai.

Dengan memistiskan motif tersebut, konflik berubah menjadi perjuangan yang menyangkut keberadaan manusia sebagai “khalifah Tuhan”, lalu menjadi lebih irasional. Setiap kompromi akan dianggap sebagai kelemahan atau bahkan pengkhianatan. Pembunuhan pun bisa menjadi sesuatu yang impersonal. Karena demi Tuhan, mereka merasa tidak membunuh seorang pribadi manusia.

Kedua, alasan historis. Pertentangan dan kebencian itu merupakan warisan sejarah. Karena telah jadi warisan, kebencian itu menjadi mempengaruhi perkembangan teologi dari kedua agama tersebut, baik dalam penafsiran kitab suci, fatwa, hukum, dan sebagainya.

Maka jadi tidak aneh, kalo anak-anak kecil sudah diajari untuk membenci suatu kaum yang bahkan si anak ini belum pernah bertemu atau mengenal seorang pun dari kaum itu. Akhirnya generalisasi berlebihan dan prasangka yang kemudian ambil peran.

Dibutuhkan lebih banyak orang yang mampu mengatasi kebencian itu, menolak determinasi sejarah dan mengadakan reinterpretasi secara kritis dan kontekstual. Membangun persahabatan tulus dan kerja sama jelas lebih berguna.[]

Tulisan terkait:

Sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/d3/SiegeofAntioch.jpeg

Tags: , , , , , , , , , , ,

Kategori: Langlang Fikir

Komentar (11)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. Afif says:

    betul banget om…

  2. Goen says:

    Emm.. kupikir not that simple. kadang “kebencian” itu muncul karena memang sebuah tuntutan atau konsekuensi logis dari beragama itu sendiri. dalam Islam ada al wala dan al bara’, komitmen dan keberlepasan, yang semua itu adalah konsekuensi logis dari syahadatain. artinya membenci dan mencinta karena Allah. karena itu Islam tidak saja menyeber melalului jalan yang tenang-tenang saja. sebuah war adalah konsekuensi atas syahadatain juga. bagi saya membenci dan mencinta adalah karena aturan Tuhan. dan itu adalah konsekuensi logis dari ikrar saya bahwa tiada sesembahan, kecintaan tertinggi, ketaatan tertinggi, raja, dan pemilik jiwa saya selain Allah.

  3. nindee says:

    Coba tanyakan pada penganut Kristiani, apakah non-Kristiani akan masuk surga.
    Coba tanyakan pada penganut Yahudi, apakah non-Yahudi akan masuk surga.
    Coba tanyakan pada Muslim, apakah non-Muslim akan masuk surga.
    Islam = Salaam = Peace = Damai
    Treat others as you wish to be treated.
    I choose to teach my children how to love and not how to hate.

  4. Syafril Hernendi says:

    @Goen: Tidak cuma Islam, setiap agama mungkin juga punya konsep membenci dan mencinta. Tinggal mana yang lebih dikedepankan. Sebagai agama pembawa rahmat, mencinta itulah yang seharusnya lebih diutamakan, hingga kesengsaraan yang justru disebabkan “agama” bisa dikurangi. Karena kita semua rindu wajah agama yang menebar damai dan tenteram, bukan sebaliknya.

    @Nindee: Setuju. Saya juga akan mengajarkan anakku kelak tentang bagaimana mencinta, bagaimana melihat persamaan sebagai manusia. Bukan justru mengerdilkan hakikat manusia dalam kurungan ras, agama, suku, dll.
    Cuma masalahnya, anak yang mo diajari belum ada:)

  5. Gonz says:

    @goen : kurang setuju
    @nindie & Safriel : Setuju

    Kalo agama hanya sekedar warisan, bukan karena hidayah dari Alloh, beginilah jadinya, hanya kebencian yang terpupuk. Hadirnya agama di dunia untuk menghilangkan kedengkian,kejahatan,kenistaan dan mengatur manusia untuk menjamin kedamaian-kebahagian dunia akhirat. Hubungan dengan Tuhan dan Hubungan antara sesama manusia di harapkan berjalan seimbang. Dan cinta kasih di dunia lah yang seharusnya di tanamkan dalam setiap diri manusia, bukanya kebencian. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu Segalanya….

  6. Adriana Lin says:

    MAAF sblmny.. Saya org kristiani & dlm agama saya TDK PRNH DIAJARI MENYAKITI ORG LAEN, apalg dgn cara membalut tubuh dgn bom & meledakkan diri shg menyakiti, melukai bhkn membunuh org laen yg tdk ad hubny dgn kmi, kmi sll diajari utk SLNG MENGHORMATI & MENGASIHI UMAT BERAGAMA LAEN.. Kmi sll diajari utk mengasihi bhkn kpd musuh2 kami & kpd org2 yg membenci kmi.. Tp apa blsanny? Kmi sll mndpt ancaman bom di greja2 & bhkn ad bbrp greja yg sdh diledakkan.. Walo qta berbeda keyakinan tp qta ttp sma2 mns, qta sma2 ciptaan Tuhan, tdk bskah qta hidup damai sbg sesama mns? Bagi Pelaku Bom – siapapn dirimu, drmn pun asalmu, TLNG BERHENTILAH MEMBENCI, BERHENTILAH MELUKAI, BERHENTILAH MENEBAR TEROR DIMANA2 krn yg kau bunuh & lukai adlh SAUDARA2MU SNDIRI.. Saya yakin dlm agama manapun diajarkn bhw JALAN MENUJU SURGA BKNLAH dgn MENGHILANGKAN NYAWA ORG LAEN ATAUPUN NYAWA QTA SNDIRI .. Marilah qta SLNG MENGASIHI sbg sesama umat beragama, coz WE ARE ONE .. Please, HEAL THE WORLD, HEAL INDONESIA, MAKE IT A BETTER PLACE FOR YOU FOR ME .. LOVE & PEACE ;-)
    _________________________

    Syaf: Saya yakin, ga ada agama yang ajaran intinya menebar kekerasan. Trus kenapa ada kekerasan? Ntar deh mudah2an bisa menuliskannya.

  7. elexyoben says:

    Santai Lin…Jangan histeris begitu. Seluruh agama sesungguhnya gak ada yang mengajari seperti itu. Yang paling penting adalah “implementasi ajaran” itu dalam keseharian, bukan “bangga atas ajaran atau symbol-simbolnya.” Sesungguhnya kebenaran itu nampak dari : seperti apa buah yang dihasilkannya. FREE DOWNLOAD YANG BEJAD-BEJAD DISINI (+ VIDEO)

  8. Nina says:

    @ Adriana Lin : saya setuju sekali.
    Mari hidup damai sebagai sesama manusia. Tidak peduli agamanya apa. Bahkan tidak peduli beragama atau tidak. Hanya jangan pernah menggenalisir sesuatu atau seseorang. Ketika Klu Klux Klan membakar salib di depan rumah-rumah orang kulit berwarna di AS, ketika Zionis menghancurkan rumah-rumah Arab Islam dan Kristen di Jerusalem, ketika seorang Jerman membunuh seorang wanita Mesir berjilbab di ruang sidang, ketika bom keparat itu meledak lagi (please forgive my language)…JANGAN MENGGENERALISIR. Ketika berita seperti “The Pope and the cardinals of the Vatican help organize tours of Auschwitz for Hezbollah members to teach them how to wipe out Jews, according to a booklet being distributed to Israel Defense Forces soldiers.” (http://www.haaretz.com/hasen/spages/1101158.html) muncul, jangan terbawa emosi dan melanjutkan blaming games. Diskriminasi, hate crimes, ketidakadilan bisa terjadi dimana saja, oleh siapa saja, dengan topeng apa saja. Tugas kita untuk tidak terlarut didalamnya dan memperbaiki apa yang bisa kita perbaiki, dengan segala cara yang kita bisa.
    When it comes to humanity, have no borders in our mind.
    @ Nendi : sori ya, jadi curhat…

  9. mac says:

    mencintai Tuhan dan membenci manusia…..sama juga bohong, menghina Sang Khalik, memperkosa hak-Nya untuk mencabut nyawa ciptaan-Nya, saat ciptaan berkata aku cinta Engkau Allah sedang tangannya berlumuran darah sesamanya?

  10. GHERIB says:

    MENMBENCI DAN MENCIANTAILAH KARENA ALLAH….

  11. @Gherib says:

    yang kayak gini nih calon2 teroris…!!!

Tinggalkan Komentar