The War Within: Perang dalam Gedung Putih

| January 3, 2009 | 0 Komentar

woodwardbook The War Within: Perang dalam Gedung PutihThe War Within, buku heboh buatan Bob Woodward. Dia bercerita soal isi perut Gedung Putih dari 2006-2008, dengan fokus bidik: Perang di Irak.

Yang bikin ga bosen, Woodward menyajikan bukunya seperti novel. Jadi isinya hampir seluruhnya berupa percakapan antar tokoh-tokoh penting Gedung Putih dan Irak. Heran, berapa lama dia riset, berapa banyak dokumen yang mesti dipilahnya hingga bisa merangkai cerita hampir 450 halaman.

Ini adalah buku kesekian Woodward, setelah antara lain All the President’s Men, The Commanders, dan Bush at War. Hampir semua buku bernada sama, menelisik ruang terdalam pusat kekuasaan AS.

Ada beberapa poin yang bagus dari The War Within:

Perang di Irak sejak mula didasarkan pada informasi dan asumsi yang salah: kalo Irak punya senjata pemusnah masal. Belakangan akhirnya cenderung intelijen yang disalahkan (baca CIA). Mereka dituduh menyuplai informasi yang salah hingga akhirnya diambil pula keputusan yang salah.

Rencana menggulingkan Saddam sebenarnya sudah jadi obsesi lama para hawkish. Jadi ketika ada isu senjata pemusnah massal, dicari-carilah kaitan supaya ada alasan buat gulingkan Saddam.

Pemerintah Irak sekarang dibawah PM Nouri al-Maliki masih belum sepenuhnya bisa netral dari sikap sektarian. Setelah lama ditindas rezim Saddam dari golongan sunni minoritas, pemerintah sekarang yang syiah, cenderung ingin membalas perlakuan yang diterimanya dulu. Kalo korban kekerasan orang sunni, mereka enggan bertindak. Orang sunni menyalahkan syiah sebagai penyebab kekacauan, orang syiah menyalahkan orang sunni sebagai biang keroknya. Tak kunjung redalah aksi saling bunuh.

Beberapa negara tetangga Irak -khususnya Arab- malah enggan kalo pasukan AS ditarik dari Irak. Kekhawatiran mereka, Irak yang berpemerintahan syiah pasti tidak akan bisa lepas dari pengaruh Iran. Makin kuatlah pengaruh Iran. Arab juga khawatir nantinya akan berdekatan dengan negara-negara berpemerintahan syiah mulai Iran, Irak, sampai Suriah.

Disitu juga dikisahkan, ga mudah ambil keputusan di level tertinggi macam di Gedung Putih. Banyak pendapat diusulkan, pro-kontra, dan berpuluh skenario. Ujungnya, belum tentu pendapat terbaik yang menang. Orang paling dekat dengan presiden punya peluang menyampaikan pendapat lebih leluasa.

Back channel communication juga penting. Ini merujuk pada jaringan komunikasi diluar hirarki struktural. Kadang ini sangat efektif, biar kalo kebanyakan bisa ga bagus juga.

Para penasihat sudah mengusulkan agar Bush lebih low profile pas pidato soal Irak, tapi nampaknya dia mengabaikan nasihat ini.

Beberapa kali terjadi perubahan strategi di Irak. Pertama, tentara AS melatih pasukan keamanan dan polisi Irak. Suatu hari nanti seluruh urusan keamanan akan berangsur diserahkan pada orang Irak sendiri dan tentara AS kemudian mundur. Tapi belakangan strategi ini dirubah dengan justru menambah sekitar 5 brigade tentara. Mereka menilai prioritas sekarang adalah pada penurunan tingkat kekerasan. Setelah rakyat Irak merasa aman, maka dengan sendirinya para pengganggu keamanan akan kehilangan akar.

Ada doktrin tentara yang bagus. Jika kamu butuh 10.000 tentara untuk sebuah operasi, maka gandakan jumlah itu. Dengan jumlah pasukan yang melimpah, korban dari kedua belah pihak akan bisa dikurangi. Menurut beberapa pakar, ini yang bikin invasi Irak jadi kacau. Pas Perang Teluk I jumlah total tentara sekitar 500.000, di perang yang sekarang mereka cuma punya total mungkin setengahnya. Jumlah yang cuma segitu jadi ga cukup mengendalikan keadaan.[]

Tulisan terkait:

Sumber gambar: http://foodpluspolitics.com/wp-content/uploads/2008/08/woodwardbook.jpg

 

Tags: , , , , , , ,

Kategori: Langlang Fikir

Tinggalkan Komentar