Harap dan Takut sebagai Pemantik Kekuatan
Keberhasilan melalui masa sulit, pencapaian, ketabahan menanggung beban. Dalam kurun hidupnya, setiap orang pasti pernah merasakan setidaknya satu. Sebagian mampu melalui dan mencapainya dengan baik, sebagian lain mesti dengan kemajuan pelan dan sesekali terjungkal.
Apa yang menjadi tenaga pendorong semua itu?
Dari berpuluh bahkan beratus pendorong, akan diringkas menjadi 2 saja: harapan dan rasa takut.
Tentu tak banyak kesangsian akan keampuhan harapan. Republik ini pun berdiri di atas tiang harapan: merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Kehilangan harapan, berarti kehilangan identitas sebagai bangsa.
Biar sering terantuk, harapan meyakinkan kaki untuk terus memulai langkah seterusnya. Terus berharap kalau antukan barusan akan menjadi yang terakhir.
Menggenggam harapan justru membuat masa paling kelam sebagai awal terbitnya terang. Bukankah malam tergelap adalah saat menjelang fajar?
Namum, ketakutan pun mempunyai kekuatannya sendiri. Ketakutan akan keadaan sekarang, dan ketakutan tidak sampainya pada tujuan di masa depan. Jenis ketakutan ini yang kemudian menyulut tenaga kemampuan.
Di tahun yang hampir habis, semakin teringat kalau hidup tidaklah selamanya. Kalau waktu seperti bayangan maya di kaca spion, yang sekali terlewat hanya bisa ditengok, tapi mustahil dijalani ulang.
Hingga waktu pun turut menawarkan dua bilah sisinya. Harapan tentang lembaran baru, sekaligus ketakutan menciutnya kesempatan.
Menjadi berguna, menjadikan segala harapan sekaligus ketakutan sebagai pemantik kekuatan.[]
Kategori: Nutrisi Jiwa






Sebelum komen, saya harus mengucapkan salam kenal dulu
Lagi search surat rekomendasi, nyasar kesini akhirnya tergoda untuk membaca artikel-artikel yang lain
terima kasih… inspiratif … tapi saya belum baca semua hehehe…
Khusus unt. yang ini mbaca judulnya ngingatkan saya pada istilah khouf dan roja’ dalam wacana sufistik.
Kalimat malam paling adalah menjelang fajar mengingatkan saya bahwa di malam yang paling kelam itulah Tuhan turun dan mencari hamba-hambaNya yang beribadah malam, mengabulkan doa-doa yang terlantun di bibir kepasrahan. Dan di malam paling kelam kita menyadari ternyata tidak sekelam adanya, cahayaNya memantul di persada alam….. Namun di malam yang paling kelam itu pulalah, adzab bersiaga di pintu langit untuk turun kepada mereka yang lalai.
Tapi spt anda, saya lebih tertarik dengan harapan hehehe… dengan meminimalkan rasa takut hingga menjadi rasa takut hanya pada Gusti Alloh
_____________________
Syaf: Salam kenal juga..
Mudah2an bermanfaat. He2x, silahkan jangan sungkan, sering2 mampir saja sambil dinikmati ‘hidangan’ ala kadarnya:)