Habitat Perempuan: Dapur, Sumur, Kasur?

| December 29, 2008 | 1 Komentar

perempuan 150x150 Habitat Perempuan: Dapur, Sumur, Kasur?Di dunia ini cuma ada laki-laki dan perempuan (kecuali yang kelainan). Jumlah laki-laki hampir sama dengan perempuan. Tapi nyata-nyata perempuan yang lebih sering dibicarakan. Dan yang membicarakan perempuan pun laki-laki yang jelas bukan perempuan.

Ditambah oret-oretan ini semakin panjang pula daftar laki-laki yang omong perempuan. Kadang-kadang (ato sering) pembicaraan soal perempuan seakan memposisikan mereka berada pada entitas yang berbeda, seakan mereka sesuatu yang lain dan asing.

Laki-laki dan perempuan pastinya berbeda. Yang paling jelas tentu dari penampakan fisik. Tugas khusus laki-laki dan perempuan juga beda. Mereka pun ditugaskan untuk mengisi keping puzzle yang berbeda.

Cuma adakah persamaan yang kemudian mengatasi semua perbedaan itu? Ternyata ada. Persamaan akan semakin nampak kalo kita menengok pada entitas yang merangkum semua laki-laki dan perempuan di dalamnya yaitu manusia.

Setiap manusia diberikan secara cuma-cuma bertumpuk potensi kemanusiaan olehNya. Ada yang pinter nyanyi, ada yang pujangga(ring), ada yang suka sambel terasi, ada yang favoritnya makan gaplek, pokoknya macam-macam.

Kalo kita teropong lagi, kesukaan Sutinah pada sambel terasi adalah sesuatu yang bebas gender. Kemampuan Sutini menyanyi pun bebas gender. Ga ada cerita, suka terasi itu maskulin, trus pinter nyanyi itu feminim.

Ternyata potensi kemanusiaan itu diberikan kepada semua manusia tanpa pilih-pilih, jadi akhirnya diapun bebas gender. Karena sama-sama manusia, setiap laki-laki dan perempuan tentu punya hak untuk mengembangkan seluruh potensinya ini. Karena mengembangkan potensi sudah tentu adalah bentuk rasa syukur atas nikmatNya, sedang melalaikannya bisa terperosok pada lubang kufur.

Akhirnya ini bukan lagi masalah siapa yang mesti bekerja, bukan sekedar perihal siapa yang harus cari duit. Ini semata karena setiap manusia diberikan begitu banyak kemampuan, dan untuk itu mereka berhak untuk mengembangkan semua kemampuan yang dimilikinya itu.

Karena manusia mengatasi semua laki-laki dan perempuan, jadiĀ  akan lebih bijak tidak langsung bilang tidak sekedar karena dia laki-laki atau perempuan.[] 

Tags: , , , ,

Kategori: Langlang Fikir

Komentar (1)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. agnessekar says:

    Selamat sore miyamoto, terima kasih sudah menulis tentang gender, berarti turut mengkampanyekan gender pada masyarakat, tapi satu hal yang perlu diketahui pembahasan gender itu ruang lingkupnya luas, tidak hanya sebatas pembagian kerja ataupun hobby, yang lebih detail adalah untuk meningkatkan status atau posisi dan kondisi perempuan agar dapat mencapai kemajuan yang setara dengan laki-laki serta meningkatkan kualitas hidup dan peran perempuan dalam segala aspek kehidupan. Demikian yang dapat saya jelaskan. Okay sukses untuk anda.

    Regards, agnessekar.wordpress.com
    __________________________

    Syaf: Wah, nama saya bukan miyamoto mbak.

    Tentu saja tidak. Artikel ini intinya hendak menyampaikan kalo laki-laki dan perempuan sama2 diberi potensi oleh Tuhan. Itu sebab, keduanya berhak mengembangkan segala potensinya itu.

    Sukses juga untuk Anda.

Tinggalkan Komentar